Minggu, 30 Maret 2014

kemarin di pantai

kemarin di pantai, aku membongkar memori tentang kita yang tak lagi ada
kemarin di pantai, aku mengingat senyummu yang tak lagi untukku
kemarin di pantai, aku mengingat tawamu yang renyah dan tak lagi terdengar
kemarin di pantai, aku mengingat tentang hari yang membawamu pergi
kemarin di pantai, aku menangisi semua kesalahan persepsiku tentangmu
kemarin di pantai, aku mengingat luka yang pernah kau bisikkan
kemarin di pantai aku bertanya "masihkah kau ingat aku?"
dan aku masih mengingat semua tentangmu, kemarin di pantai~

Sabtu, 29 Maret 2014

Prestasi



            Cerita ini bermula dari liburan semester yang gue pikir bakalan membosankan karena dompet kosong, ATM menangis, ditambah lagi status gue saat ini adalah penulis. Ya, gue penulis. Penulis SKRIPSI -_- . Lho, apa hubungannya penulis skripsi dengan libuan yang membosankan? Anda penasaran? Sama~ saya juga~ (gak kreatif banget gue pemirsa -.-). Jadi sebelum liburan, gue udah selesai bimbingan dan proposal gue tinggal revisi terakhir untuk gue bawa ke seminar. Nah, rencananya gue mau ngerevisi itu proposal pas lagi liburan. Tapi ya gitu deh, manusia hanya bisa berencana, tingkat kemalasan yang menentukannya. Alhasil gue selalu dihantui sama proposal ganteng yang setia bergentayangan dipikiran gue. Lo bayangin aja betapa mengerikan setiap saat dihantui proposal yang nuntut janji untuk direvisi secepatnya padahal ini waktunya libur mameeeen. Mungkin sama rasanya kayak lo yang terus-terusan diteror sama pacar lo yang nuntun minta dinikahi secepatnya karena dia hamil. Yaa… mingkin sama   (._.’’)
            Minggu pertama liburan kegiatan gue monoton bingits. Bangun tidur gue ke kamar mandi, gue cuci muka, lalu sikat gigi. Gue pergi ke dapur, gue makan. Gue pergi ke kamar, gue tidur. Haruskah ku berlari kepantai lalu berbelok ke hutan? Kenapa tak pecahkan saja emebernya, biar ramai. Biar menggaduh sampai gaduh. Oke, gue gak niat mecahin ember karena takut mak gue ngamuk. Akhirnya gue tiduran dan tiba-tiba ingat tentang Ijah, seorang teman yang bisa membuat gue mendadak bijak karena curhatannya. Suatu hari Ijah sms gue, dia bilang kalau dia galau. Karena takut dia berbuat yang tidak-tidak, gue langsung nelepon Ijah saat itu juga. “halo jah, kenapa? Ada apa? Diputusin lagi? Diselingkuhin lagi atau di aniaya lagi?” gue serang Ijah dengan pertanyaan dan dia hanya tertawa.
“hahahaha, bukan ah mbak. Gue cuma ngerasa kok kayaknya hidup gue gini-gini aja ya?”
“gini-gini aja gimana?”
“iyaaa, lurus banget, sekolah, trus lanjut kuliah, ntar nyari kerja. Rasanya gak ada tantangan, gak ada prestasi yang gue capai mbak. Tadi gue lihat blognya anak akbid di Pekanbaru, di situ dia nulis tentang pengalamannya dari jaman sekolah sampai sekarang mbak”.
“nah, terus?”
“gue ngerasa iri, sampai umur segini gue belum pernah ngerasain punya prestasi yang woow seperti dia mbak. Dia bisa pergi ke kota A, kota B semua karena prestasi yang dia capai. Bahkan dia jadi pembicara di sebuah acara karena berulang kali juara lomba nulis mbak. Sementara gue? Aaah bisa ke Bukittinggi aja karena kuliah. Eh, apa gue ikut lomba nulis aja ya mbak, biar bisa kayak dia?  Tapi gue gak suka nulis sih mbak, gimana dong? Kayaknya telat banget ya kalau baru sekarang kepikiran pengen berprestasi”.
            Gue cuma bisa senyum mendengar semua ocehan Ijah yang tak dipungkiri gue juga ngerasain hal yang sama. Cerita Ijah ngebuka mata gue tentang “apa yang udah gue lakukan selama ini? Apa prestasi yang udah gue capai?”. Bener, semuanya terlalu lurus karena selama ini gue gak punya keberanian untuk keluar dari zona aman. Pikiran gue saat ini mungkin sama dengan Ijah. Tapi karena Ijah curhat ke gue, gue harus bisa ngasi nasehat yang baik untuk dia dan sekaligus untuk diri gue sendiri.
“gini jah, gak cuma dengan menambahkan gula pada kopi agar ia terasa enak”.  
“maksudnya mbak?”
“ yaaa sebenernya gue gak ngerti sih maksudnya apa, cuma gue ngerasa keren aja ngomong gitu. Hahahaha”
“serius keleees” Ijah mulai BT.
“gini lho, lo gak harus ikut lomba nulis kalau lo gak suka nulis. Lakukan apa yang lo suka dan itu gak musti muluk-muluk jah. Lo gak harus lakukan apa yang dia lakukan untuk punya prestasi. Gak cuma dengan jadi penulis kan lo bisa berprestasi? Hobi lo apa? Misalnya melukis, ya lo coba aja buat ikut lomba melukis. Atau sekarang lo lagi nulis KTI, coba selesaikan itu dan lo wisuda tepat waktu. Itu juga prestasi buat lo jah. Setelah kelar wisuda, lo mau ngapain? Misalnya lo mau mengabdi untuk negeri, jadi relawan ditempat terpencil. Ya lo tinggal berusaha untuk mewujudkan apa yang ingin lo capai jah. Ketika lo bisa mewujudkan keinginan lo, itu juga prestasi jah. Gak ada kata terlambat selagi lo masih punya nafas jah, selagi lo masih punya keinginan, harapan dan kemauan untuk mewujudkannya. Prestasi itu banyak macamnya jah, capai apa yang bisa lo capai. Buat kopi lo jadi enak jah, mungkin lo gak bisa nambahin gula, tapi lo bisa nambahin susu kedalamnya. Mungkin suatu hari nanti lo bisa nambahin cream dan coklat. Terus berusaha and believe in god jah”.
            Yang gue ingat saat itu Ijah cuma diam, dan telepon terputus. Sampai saat ini gue gak bisa ngebaca arti diamnya Ijah. Gue cuma bisa mengira-ngira mungkin Ijah kaget karena gue mendadak bijak kemudian dia ayan dan gak sengaja mencet tombol merah di hpnya. Aaaah biarlah hanya Ijah dan Tuhan yang tau. Lamunan gue pecah karena handphone gue berdering dengan merdu, gue lihat ada nomor tanpa nama di layarnya. Gue ragu buat angkat telepon, bisa jadi orang diseberang sana ngaku-ngaku guru kelas anak gue dan ngasi kabar kalo anak gue jatuh dari tangga terus keadaannya kritis. Dan… *terjadilah penipuan seperti dalam FTV azab wanita penipu -.-. Tiba-tiba gue sadar, gue belum punya anak dan gue pengen punya anak :3 #abaikan. Panggilan telepon gue terima dan berteriaklah seorang wanita dari seberang sana manggil gue “mbaaaak”. Tanpa dia memperkenalkan diri gue udah tau kalau itu Ijah.
“Ijaaaaaah. Apa kabar? Udah lama hilang ternyata masih hidup :’)”
“ih, mbak mah suka gitu… kan kemaren sibuk buat KTI hihihi… mbak, tebak gue di mana?”
“di mana? Di Duri? Di Padang? Atau masih di Bukittinggi?”
“yeee… gue udah wisuda keleees. Sekarang lagi di Kalimantan nih.”
“waaaah wisuda gak ngasi kabar. Ngapain lo di sana?”
“gue jadi bidan desa di sini mbak. Gue ngabdi di daerah terpencil dan gue bangga, ini prestasi yang gue capai setelah wisuda. Lo bener mbak, gue gak harus nambahin gula kalau gue gak punya gula. Gue punya susu dan cream”.
            Yaaah, liburan kali ini gue dapat satu pelajaran dari kisah yang pernah gue bangun bersama Ijah. Ocehan gue ternyata bisa jadi semangat untuk dia. Sekarang Ijah udah berhasil membuat secangkir kopi dengan cream di atasnya. Dan sekarang giliran gue. Fighting (^^)9

                                                           
                                                                                                                23 Januari 2014

takdir~

kopi dan garam
mereka bertemu dalam satu tempat yang sama, namun tak ditakdirkan bersatu
saling menatap namun tak sanggup berharap

suatu senja
garam menatap pada kopi yang diam
di benaknya berputar sebuah kata
"seandainya"
seandainya aku adalah gula,
mungkin aku bisa melebur menjadi bagian darinya
seandainya aku air,
mungkin aku bisa menciptakan "kita"
seandainya aku cangkir,
aku bisa menjadi tempatnya bersandar menciptakan sebuah rasa

ya... seandainya
bahkan seandainya aku hanya sebuah sendok
yang membantunya menyatu dengan air dan gula
aku masih mensyukurinya
dan seandainya tempatku bukan di dapur ini


di lain sisi kopi menatap jingga dan berkata
"sampaikan pada garam bahwa aku rela menjadi tak wajar
aku rela menjadi kopi asin"

namun saat itu sang barista tetap menyatukan kopi dan gula
bukan garam

Senin, 24 Maret 2014

Arti~

jangan mengatas-namakan orang lain jika itu hanya kamu
bahkan ini bukan tentang siapa-siapa
hanya arti yang kita tafsirkan berbeda

seperti mendung yang mereka artikan akan turun hujan
tapi sebagian orang berkata "itu hanya mendung"
dan seperti terik mentari yang mereka artikan akan tetap cerah
tapi sebagian orang berkata "akan turun hujan"

lihatlah...
bahkan tak setiap habis hujan pelangi muncul

ini bukan tentang siapa-siapa
hanya kita yang berbeda
anggap saja aku "hitam" dan kau "putih"
arti


Senin, 25 November 2013

이사밸 - My Eden~

Hello ^^
Ini postingan ke-dua gue, gak pengen cerita banyak sih. Cuma mau bilang kalo gue lagi suka banget sama ini lagu. Pertama kali denger My Eden ini di Korean drama yang judulnya Gu Family Book. Ada beberapa kalimat yang gue suka diliriknya. Bagian mana itu? Coba cari sendiri, nih liriknya hihihi ^^


 
There's a stone for the things forgotten
Just a stone for all you wanted
Look a stone for what will not be
All you thought was there
Count the stones don't think about him
Let the stones become your mountain
Let them go the nights you doubted
All those thousand cares
Softly now thread
Though the towns and the dark
Softly be led
Bye the clouds and the stars
When the distances grow,
When the winds start to blow,
Something whispers from a far
There's a home in the heart
Another heaven
There's a time for everything,
There's a song for every dream
(There's a song)
There's a stone for every action
For the things you won't look back on
Look, a stone for all that will be
All that still is me
Softly now thread
Through the sound of the dark
Softly be led
By the clouds and the stars
When the distances grow,
When the winds start to blow,
Something whispers from a far
There's a home in the heart
Another heaven
There's a time for everything,
There's a song for every dream
There's a world that's yet to be

Selasa, 19 November 2013

Fajar is Come Back !!

안녕하세요 chingudeul \(^^)/
ini ntah blog keberapa yang gue buat setelah beberapa blog sebelumnya yang berisi tugas. iya, tugas yang sengaja gue simpen untuk antisipasi kalau-kalau tugasnya mendadak ilang. aneh memang, but just ignore that ^^
hmm.. gue masih bingung sih mau nulis apa. tapi yang jelas Fajar is Come Back!! \(^^)/